Wujud tidaklah begitu penting

Saya mempunyai uang seratus ribu, dan andai saya menaruh uang tersebut ditengah jalan, saya yakin tidak lama kemudian uang tersebut akan hilang diambil orang.
Andaikan saya melipat-lipat uang tersebut, dan meletakkannya di jalan, saya yakin uang tersebutpasti hilang.
Dan andai saya meremas-remas uang tersebut, dan saya injak-injak, lalu saya tinggalkan di tengah jalan, saya masih tetap yakin kalau uang tersebut akan hilang.
Yang kita tahu disini adalah bagaimanapun bentuk uang tersebut, ketika kita menaruh uang tersebut di jalan pasti akan diambil orang. Dan seperti halnya manusia bagaimanapun rupa, wujud, dan bentuk manusia bukanlah hal yang penting. Semua manusia sama di mata Tuhan. Yang terpenting dari manusia adalah hatinya.

Mawar dan Mutiara

Wanita yang tidak menutup auratnya itu bagaikan bunga mawar. Bunga mawar itu indah untuk dipandang, dan mudah untuk didapatkan dan dipetik. Tapi bunga mawar itu cepat rusak, apalagi setelah dipetik.

Lain halnya dengan mutiara, wanita yang menutup auratnya dan mengenakan jilbab bagaikan sebuah mutiara. Mutiara itu sulit dilihat karena ditutupi oleh cangkang kerang yang melindungnya, dan untuk mendapatkan mutiara itupun sulit. Kita harus menyelam ke dasar laut, mencari kerang, dan membuka cangkang kerang tersebut untuk mendapatkan mutiaranya.

Mungkin bagi orang awam mawar itu terlihat lebih indah daripada mutiara. Tapi bagi orang yang mengerti,  mutiara terlihat jauh lebih indah dan lebih berharga. Nilai mutiara jauh melebihi mawar, dan mutiara lebih awet dan tidak mudah rusak seperti halnya mawar.

Dan diantara mawar dan mutiara, manakah yang anda pilih?

Anak Laki-laki dan Sekantung Paku

 Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku,dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang dipagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata :

“Anakku, kamu sudah berlaku baik,tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar.”

“Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka.”

“Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya sama perihnya seperti luka fisik.”
“Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka.”
“Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat.”
“Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu.”
“Tunjukkanlah kepada teman- temanmu betapa kau menyukai mereka.”