Haruskah tetap idealis atau mulai realistis?

Anda mungkin bertanya-tanya kepada diri Anda sendiri, saya harus tetap mejaga idealisme saya atau harus mulai realistis? Anda merasa sepertinya tidak bisa bertahan dengan idealisme Anda dan harus mulai realistis. Anda mulai melihat teman Anda yang tidak idealis lebih banyak dan mudah mendapat job daripada Anda meski kualitas dia jauh di bawah Anda? Haruskah tetap idealis?
Saya menyaksikan sendiri bahwa orang yang mengajari saya untuk idealis ternyata kadang dia melenceng dari idealisme dia. Dan orang yang berkata pada saya agar jangan terlalu idealis kenyataannya ada saat dimana dia idealis sekali. Dari situ membuat saya bingung apalagi di saat menghadapi pilihan harus tetap idealis atau lepas idealismenya?
Dan pada suatu ketika sampailah saya pada sebuah jawaban bahwa, ada saat dimana kita harus tetap idealis dan ada juga saat dimana kita harus realistis! Idealis itu adalah soal nilai-nilai yang kita pegang, dan itu yang membuat kita tetap berada di “jalur” yang benar. Idealisme sering membuat seseorang berada di “level” yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak. Namun bagaimana tak selamanya kita harus idealis. Ada saat dimana kita harus realistis! Teman Anda tidak butuh idealisme Anda, teman Anda hanya ingin menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang dengan Anda. Client Anda tidak butuh idealisme Anda, mereka ingin Anda mengerjakan apa yang mereka inginkan dan membayar upah setelah mengerjakan apa yang mereka inginkan. Pembeli juga tidak butuh idealisme Anda, mereka hanya ingin membeli apa yang mereka suka dan ingin mereka beli bukan apa yang ingin Anda jual pada mereka.
Pada akhirnya idealis atau realistis hanya soal timing yang tepat, kapan harus idealis dan kapan harus realistis. Idealis dan realistis juga bukan dua hal yang berlawanan. Keduanya bagai Yin dan Yang, berbeda tapi untuk saling melengkapi.

Leave a Reply

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang.