Dunia atau akherat?

"kerja jangan nyari dunia saja, tapi nyari akherat juga".

Hmm??
Statement tersebut akhir-akhir ini sering saya dengar, dan berikut adalah opini saya :

Kita hidup untuk akherat apa untuk dunia?
Kalo hidup untuk akherat kenapa dilahirinnya di dunia?
Ngomong-ngomong Adam itu diciptakan untuk mengemban misi di dunia, meramaikan kehidupan di bumi.
 
Jadi..???
 
Apapun yang kita lakukan selama itu berguna dan bermanfaat bagi orang lain, maka itu adalah ibadah dan berarti itu juga urusan akherat. 

Karena "Sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi sesama" - Muhammad SAW.



Petani yang yang menanam padi di sawah berarti dia sedang beribadah karena apa yang dia kerjakan telah membuat banyak orang tetap bisa makan dan hidup. Karenanya juga pabrik-pabrik obat pertanian tetap beroperasi dimana di dalamnya ada banyak karyawan yang menggantungkan hidu disana. Adalagi pabrik penggilingan beras yang juga banyak karyawan disana, ditambah para supir yang mendistribusikan gabah dan beras. Itu juga ada sangkut pautnya dengan pegawai pom, penjual truk, penjual onderdil, bengkel, aahh banyak banget kalo dihubungin. Semua yang dilakukan pak Tani juga menjadi alasan tetap terselenggaranya kehidupan di muka ini. Dan saat ini, detik ini, saat kita bernapas menguluarkan karbondioksida, itu juga berguna untuk tumbuhan untuk proses fotosintesis di siang hari yang kemudian menghasilkan oksigen untuk dihirup orang banyak sehinggu tetap berjalanlah kehidupan di bumi.

Dan tulisan ini  bukan bertujuan untuk membenarkan kerja terus tapi lupa ibadah ritualnya yaa... Karena sebagai orang yang di KTPnya masih tercantum nama islam, tetap harus menjalankan syariat sebagaimana mestinya.

#udahgituaja

Haruskah tetap idealis atau mulai realistis?

Anda mungkin bertanya-tanya kepada diri Anda sendiri, saya harus tetap mejaga idealisme saya atau harus mulai realistis? Anda merasa sepertinya tidak bisa bertahan dengan idealisme Anda dan harus mulai realistis. Anda mulai melihat teman Anda yang tidak idealis lebih banyak dan mudah mendapat job daripada Anda meski kualitas dia jauh di bawah Anda? Haruskah tetap idealis?
Saya menyaksikan sendiri bahwa orang yang mengajari saya untuk idealis ternyata kadang dia melenceng dari idealisme dia. Dan orang yang berkata pada saya agar jangan terlalu idealis kenyataannya ada saat dimana dia idealis sekali. Dari situ membuat saya bingung apalagi di saat menghadapi pilihan harus tetap idealis atau lepas idealismenya?
Dan pada suatu ketika sampailah saya pada sebuah jawaban bahwa, ada saat dimana kita harus tetap idealis dan ada juga saat dimana kita harus realistis! Idealis itu adalah soal nilai-nilai yang kita pegang, dan itu yang membuat kita tetap berada di “jalur” yang benar. Idealisme sering membuat seseorang berada di “level” yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak. Namun bagaimana tak selamanya kita harus idealis. Ada saat dimana kita harus realistis! Teman Anda tidak butuh idealisme Anda, teman Anda hanya ingin menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang dengan Anda. Client Anda tidak butuh idealisme Anda, mereka ingin Anda mengerjakan apa yang mereka inginkan dan membayar upah setelah mengerjakan apa yang mereka inginkan. Pembeli juga tidak butuh idealisme Anda, mereka hanya ingin membeli apa yang mereka suka dan ingin mereka beli bukan apa yang ingin Anda jual pada mereka.
Pada akhirnya idealis atau realistis hanya soal timing yang tepat, kapan harus idealis dan kapan harus realistis. Idealis dan realistis juga bukan dua hal yang berlawanan. Keduanya bagai Yin dan Yang, berbeda tapi untuk saling melengkapi.

PACAR ORANG

Hai pacar orang, bagaimana kabarmu? Aku harap kamu saat ini sedang bahagia  bersama kekasihmu.
Hai pacar orang, tidakkah kau merindukanku? Aku tahu tak secuil pun kamu mengucap kata rindu padaku, tapi di sosial mediamu kamu berteriak bahwa kamu sungguh merinduku.
Hai pacar orang, aku tahu kalau kamu menaruh hati padaku. Tapi ada pertengtangan dalam diri ini, yang satu berkata tak ada salahnya jika aku bersamamu dan yang lain berkata jangan!
Selama janur kuning belum melengkung masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi.  Disadari atau tidak kamu berusaha meyakinkan hal itu padaku. Berharp aku membawau ke kisah yang lain yang mungkin lebih indah dari yang sekarang.
Hai pacar orang, tahukah kamu soal kisahku dulu? Tahukah kamu apa yang aku pelajari dan apa yang aku yakini sedari dulu?
Aku pernah berada di posisi dimana kekasihku memilih jalan yang saat ini juga ingin kamu pilih, yang ada akhirnya aku utuskan agar dia menjalani kisah bersama orang baru tersebut.
Setelah kejadiaan tersebut  aku berkata pada diriku sendiri,”Jangan melakukan hal yang sama, agar tak terulang kisah yang sama pada orang lain”. Dari situ aku belajar, agar aku tidak menjadi seperti kekasihku yang dulu atau menjadi pria yang bersama kekasihku dulu.
Aku harap secuil kisahku itu bisa membuatmu sadar, kenapa aku tak bisa memilih bersamamu. Karena ada hal yang berkecamuk dalam hati ini bila aku memilih bersamamu sedang kamu masih punya status hubungan dengan kekasihmu.
Namun ada satu kabar gembira. Aku bisa saja menjalin kisah bersamamu, asal kamu sudah tak lagi bersama kekasihmu.



MENJADI MANUSIA

Suatu hari ketika saya masih duduk dibangku kelas 3 SMP, saya dan teman-teman sekelas di hukum di tengah lapangan gara-gara saat itu anak-anak rame waktu jam kosong dan kelasnya juga kotor. Saya dan ketua kelas saya waktu itu yang bernama Sigit, berdiri di depan dan mendapat pukulan paling keras dari yang lain tepat di betis bagian belakang. Ya karena saat itu kami berdua asyik internetan di lab komputer, saat itu pula pertama kalinya saya mendapat email yang berisikan video orang memasukkan koin ke dalam matanya dan menariknya kembali keluar, dan sekarang saya tahu orang tersebut ternyata bernama Ben Seidman.

Setelah aksi hukuman pukulan di kaki, Guru saya bertanya,"Kamu mau jadi setan apa malaikat?". Teman saya menjawab,"Malaikat pak". Saat itu hati kecil saya berteriak,"Saya ingin jadi manusia!". namun dengan berat hati dan terpaksa supaya tidak berlarut-larut dan mendapat pukulan tambahan saya menjawab,"Jadi malaikat pak".


Dewasa ini saya baru bisa menjawab kenapa dulu hati kecil saya berteriak ingin menjadi manusia saja. Karena dengan menjadi manusia kita menjadi setan dan malaikat. Kalau pun jadi setan, kita hanya bisa melakukan hal-hal dan sifat (jahat) yang hanya bisa dimiliki dan dilakukan oleh setan. Kalau jadi malaikat, ya malaikat yang mana dulu? Pecabut nyawa? Penjaga neraka? hehehe. Kalau jadi malaikat ya kita hanya punya sifat-sifat malaikat yang baik, taat, tidak pernah melanggar perintah, dan sifat malaikat lainnya.

Namun dengan menjadi manusia kita bisa memeliki sekaligus  sifat setan dan malaikat. Andai manusia tidak punya sifat pemarah (setan), mungkin kita tidak bisa marah bila ada yang berbuat salah atau semena-mena. Namun dengan sifat pemarah yang kita punya kita bisa memanfaatkan marah itu untuk menegur yang salah, untuk hal yang bisa memberdayakan bagi kita dan orang lain. Andai sifat kita ini selalu taat dan tak pernah menentang seperti malaikat, mungkin kita hanya diam saja saat melihat hal yang tak seharusnya, hanya diam bila ada pimpinan dzalim atau melakukan kesalahan, hanya perjalan sesuai sistem dan prosedur tanpa pernah ada ide dan inisiatif. Dari dua contoh disini Anda bisa menarik benang merah sendiri untuk contoh yang lain, tentang bagaimana andai manusia hanya meiliki sifat setan atau sifat malaikat saja.

Sifat setan itu bisa memberdayakan, asal dikelola dengan baik. Sifat setan dan malaikat yang ada dalam diri manusia itulah yang membuat manusia mendapat predikat MAKHLUK PALING SEMPURNA ciptaan Tuhan, lebih sempurna dari setan maupun malaikat, yang dipilih untuk menjadi khalifah guna meramaikan kehidupan di muka bumi.

TAK ADA SAHABAT SEJATI, YANG ADA HANYALAH KEPENTINGAN

Perlu waktu beberapa tahun bagi saya untuk benar-benar memahami makna dibalik kutipan dari Khalil Gibran tersebut. Mungkin suatu saat dengan seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan berubahnya pemahaman, saya juga akan mendapati pemahaman baru tentang quote/kutipan tersebut.



Waktu usia kecil dan remaja dulu kita pasti pernah merasakan indahnya persahabatan/pertemanan. Seakan-akan tak akan ada yang akan memisahkan tali persahabatan yang kala itu tengah indah terjalin. Tak jarang janji pun dibuat untuk tetap setia menjadi kawan baik (selamanya) bila kelak waktunya berpisah tiba. Entah terpisah karena sudah lulus dan beda sekolah, terpisah karena sudah beda kesibukan dan pekerjaan, atau terpisah karena sudah beda tempat tinggal.

Tak jarang saya dapati bahwa sahabat yang dulunya sangat dekat dengan saya sekarang malah agak sedikit canggung bila ngobrol dan bertemu. Lalu bagaimana dengan teman yang dulunya tidak terlalu dekat? Pastinya kalau bertemu hanya sekedar sapa atau basa-basi dan setelah itu melanglang pergi. Ada pula yang pura-pura lupa atau tidak kenal, mungkin segan..

Mungkin Anda pernah heran dengan seorang teman yang dulunya dekat dan hangat, sekarang malah cuek dan seolah kurang peduli dengan teman lamanya. Diajak reunian tidak mau mau, waktu didatangi ke rumahnya malah balik bertanya,"Ngapain kamu kesini?".
Kesal? Siapa juga yang tidak kesal jika diperlakukan seperti itu. Namun yang perlu disadari disini adalah tak selamanya orang itu sama seperti dulu. Setiap orang berubah tiap waktunya, seperti sungai Gangga yang isinya terus berubah setiap detik.
Teman-teman sekolah kita yang dulu hangat dan dekat itu mereka dulu masih punya kepentingan dengan kita. Kepentingan ingin bisa sharing, kepentingan untuk bisa menyelesaikan tugas, kepentingan untuk bisa bercengkrama, kepentingan untuk bisa bersama. Namun seiring berjalannya waktu, teman kita punya dunia yang baru, lingkungan baru, kepentingan baru. Dan mungkin saja kita sudah tidak termasuk lagi dalam kepentingannya. Bukankah tak jarang kita sendiri juga seperti itu?
Lalu bagaimana dengan teman lama yang masih mau diajak ngumpul dan reuni? Ya berarti masih ada kepentingan disitu, kepentingan ingin sama-sama melepas rindu.

Dan apakah Anda pernah punya teman yang lama tidak ada ada kabar lalu tiba-tiba muncul dan tanya-tanya kabar. Dan Anda sendiri pasti tahu bahwa teman Anda ini ujung-ujungnya mau pinjam uang. Hahaha. Seperti itulah, mereka akan datang bila ada kepentingan, dan pergi bila kepentingannya telah selesai.

Dan satu lagi. Ketika Anda jatuh cinta pada seseorang, Anda akan berusaha memuaskan kepentingan Anda, kepentingan agar bisa bersama dan memiliki dia. Dan disitu saat Anda dan dia sudah memadu kasih, seakan-akan Anda berdua tidak akan dan tidak ingin terpisah satu sama lain. Anda berdua punya kepentingan untuk saling mencintai dan dicintai. Namun ketika masalah demi masalah datang, dan Anda berdua merasa hubungan tersebut tidak bisa dilanjutkan, dan memutuskan untuk berpisah, kepentingan Anda berdua pun telah selesai. Dan tak jarang yang dulu saling mencintai sekarang telah lupa sama sekali. Ya, karena semua kepentingan untuk saling mencintai sudah tidak ada lagi.

Semua akan datang dan pergi pada waktunya. Semua akan pergi bila kepentingannya telah telah selesai. Just move on and let it go.